Tanggapan Pelaku Bisnis Tentang Strategi Mempertahankan Bisnis di Tengah Covid-19

123

101Red – Pandemi virus corona (Covid-19) membawa dampak yang sangat terasa di dunia bisnis dan ekonomi. Ketika diberlakukannya social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tingkat pemasaran pun berubah sangat drastis.

 

Banyak pelaku bisnis yang harus memutar otak agar bisa terus memasarkan produk atau jasa mereka ke konsumen. Mereka harus memiliki strategi brand bertahan di tengah pandemi virus corona. Banyak dari pebisnis yang mengoptimalkan pemasaran online dan digital branding sebagai sarana berjualan dengan konsumennya.

 

Tria Raharjo selaku CEO TRAS N CO Indonesia, menyebut bahwa banyak sektor yang merasakan dampak dari benca wabah virus corona. Beberapa sektor bisnis yang berkemungkinan mengalami penurunan penjualan adalah bengkel, restoran, salon, spa, properti, mice, tour & travel, hotel, transportasi, penerbangan, mal, fashion, dan beberapa sektor bisnis lainnya.

 

Meskipun demikian, menurut Tri, masih terdapat beberapa sektor bisnis yang berpotensi stabil dan mengalami kenaikan seperti produk kesehatan yang dibutuhkan saat pandemi, e-commerce, minimarket, toko sembako, apotek, toko jamu, provider internet, jasa penyedia video conference, aplikasi belajar dari rumah, dan lainnya.

 

“Melihat permasalah tersebut, para pelaku brand harus menyikapinya dengan cepat dan tepat untuk mengubah strategi penjualannya. Diharapkan tidak terjadi drop penjualan yang signifikan saat diberlakukannya social distancing,” kata Tri yang juga menjabat sebagai Chairman Komunitas Indonesia Brand Network (IBN), Senin (13/4/2020).

 

Agar dapat tetap bertahan di tengah pandemi ini, lanjut Tri, para pelaku brand harus bisa memiliki strategi untuk menyiasatinya. Mulai dari fokus ke pemasaran digital melalui website yang dijadikan e-commercesocial mediasearch engine, penjualan melalui marketplace, dan membentuk tim reseller untuk menjual produknya.

 

“Karena yang saya lihat, di tengah pandemi virus corona ini ada ancaman sekaligus peluang. Bagi pemasar, tentunya harus dapat menangkap peluang ini menjadi hal yang mutlak,” jelasnya.

Selanjutnya, kata Tri, saat ini korban PHK sudah mencapai lebih dari satu juta orang atas dampak pandemi ini. Solusinya bagi mereka adalah mencari alternatif lain dengan menjadi reseller atau penjual dari produk-produk yang dibutuhkan saat masa pandemi ini.

 

Sementara bagi pemasar, lanjut Tri, mereka dapat membuka pola peluang usaha seperti membuka kerja sama resellerdropship, atau lainnya untuk menjual produknya secara masif kepada masyarakat.

 

“Dalam masa pandemi virus corona ini, pemasar harus cepat beradaptasi seiring dengan diberlakukannya social distancing. Karena sudah pasti sangat memengaruhi perubahan besar dalam tren perilaku konsumen dalam berbelanja,” papar Tri yang juga sebagai pengamat brand.

Dalam kesempatan ini, Tri juga memaparkan strategi brand dalam memasarkan produk di tengah wabah covid-19.

“Kalau pemain kuliner saat ini mulai beralih membuat produk ready to eatready to cook, dan ready to drink serta frozen food yang dipasarkan melalui konsep pesan antar, konsep reseller, dan penjualan melalui marketplace,” kata Tri.

 

Untuk bisnis pendidikan, lanjut Tri, dapat membuat layanan belajar dari rumah. Siswa diberi akses untuk belajar dari rumah melalui aplikasi yang memudahkan siswa dalam belajar.

 

“Di tengah pandemi ini, tentunya para pelaku brand harus bijak dalam mengalokasikan dana campaign-nya. Kreativitas saat branding itu mutlak harus dilakukan, terlebih di saat work from home seperti ini. Kegiatan branding yang dilakukan pun beragam, mulai dari kegiatan CSR terkait pandemik virus corona, campaign belanja dari rumah, branding melalui media online, media sosial, website official, membuat online festival dengan memberikan diskon khusus, dan lainnya,” ungkap Tri.

daftar belajar jualan online di 101red
daftar belajar jualan online di 101red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here