Persaingan Barang Murah dari Tiongkok Menurut Para Ahli

28

101Red – Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM), melakukan tindakan tegas dengan memanggil salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia terkait dengan barang-barang murah yang berasal dari Tiongkok yang banyak menuai dukungan dari berbagai pihak. Tindakan ini dilakukan pemerintah yang berawal dari viralnya tagar #SellerAsingBunuhUMKM yang jadi topik viral di media social.

Viralnya tagar tersebut bermula dari percakapan pengguna media social yang membahas importir asing bernama Mr Hu yang menggelar lapak di Shopee. Masalah besar yang diakibatkan oleh importir asing ini adalah selalu memasang harga yang sangat murah, sehingga dipercaya dapat membunuh UMKM Indonesia. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira berpendapat bahwa lancarnya arus barang impor dari Tiongkok lewat marketplace e-commerce akibat regulasi impor yang terlalu lama.

Menurutnya, beberapa faktor yang menjadikan barang impor China berkembang pesat adalah perusahaan e-commerce di Indonesia sebagian besar terafiliasi dengan grup perusahaan yang ada di China.

“Memang strategi dari pebisnis China untuk mengakuisisi e-commerce di Indonesia, kemudian dijadikan channel distribusi produk asal China,” kata Bhima kepada Kontan.co.id, Jumat (19/2).

Lanjut Bhima, Grup yang membeli saham e-commerce Indonesia, gencar dalam melakukan aksi promo dan diskon. Bahkan, berani memberikan gratis ongkos kirim dan sering melakukan event diskon hingga 90%. Wajar apabila produk made in China cukup dominan di platform e-commerce.

Pemerintah China juga berperan penting dengan melakukan subsidi kepada perusahaan yang melakukan ekspor barang ke Indonesia. Kata Bhima, di negeri Tirai Bambu, ada sebuah tempat yang bernama Tao Bao Village, yakni kampung UMKM yang memproduksi barang dan menjual secara online.

Di kampung UMKM itu, pemerintah China memberikan subsidi mulai dari pajak, sertifikasi, dan bea ekspor. “Di sini kita kalah. Kalau barang impor dominan di e-commerce jelas akan memukul produsen lokal. UMMK lokal kalah bersaing dan akhirnya gulung tikar,” tegas Bhima.

 

Regulasi barang impor

Oleh karena itu, Bhima mengingatkan agar porsi impor barang di platform e-Commerce diatur pemerintah. Misalnya, dapat menerbitkan regulasi maksimal 30% barang impor by country origin di e-Commerce.

Tapi, hingga saat ini tidak pernah ada regulasi yang tegas. “Padahal, pemerintah jelas mendorong UMKM masuk platform digital. Tapi, di sisi lain, persaingan dengan barang impor di liberalkan,” ujar Bhima.

Hal tersebut, lanjut dia, tentu akan membuat UMKM lokal kalah bersaing. “Cepat atau lambat barang impor yang sudah dominan di platform e-Commerce makin diberi ruang. Kalau dulu orang impor prosesnya susah sekarang tinggal duduk manis. Barang dari China door to door sampai di depan pintu konsumen Indonesia,” Bhima mengkhawatirkan.

Sebelumnya, peneliti Indef Nailul Huda, menilai pasar domestik Indonesia sangat menarik bagi tiap pelaku e-Commerce. Dengan pertumbuhan kelas menengah, generasi gadget yang sangat pesat dan haus akan diskon produk ditangkap oleh produsen Tiongkok untuk menjual produknya langsung ke konsumen di Indonesia.

“Sekarang juga pengiriman lebih murah dan ada diskon ongkir dari platform. Harga produksi yang murah dan ongkir yang murah merupakan kombinasi yang pas buat costumer Indonesia,” jelasnya.

Efek negatifnya, ada ketidakseimbangan persaingan antara produsen di Tiongkok yang sudah besar dan efisien dengan pelaku UMKM yang rata-rata tidak sebesar dan seefisien produsen asal negeri tirai bambu itu.

Praktik ini lama kelamaan akan semakin menggerus pangsa pasar UMKM lokal yang saat ini pun sangat rendah. UMKM tidak dapat lagi bersaing. Akibatnya banyak UMKM yang tidak turun menjual ke platform e-Commerce.

”Di saat sudah tidak ada lagi pesaing lokal, harganya lama kelamaan bisa naik dan membebankan ke konsumen. Praktik ini termasuk praktik tidak sehat,” tegasnya.

daftar belajar jualan online di 101red
daftar belajar jualan online di 101red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here